Hal yang Sebaiknya Tak Dikatakan pada Si Kecil

  • Post by: Snobby
  • Diterbitkan : 31 Jan 2020

Berkomunikasi dengan anak adalah salah satu hal penting dalam pengasuhan. Sayangnya, tidak selamanya komunikasi yang terjalin selalu mengeluarkan kata-kata yang baik. Ada kalanya si Kecil sedang tidak mudah diajak bekerja sama. Ada juga kalanya Mama sedang memiliki suasana hati yang kurang baik untuk menghadapi tantrumnya anak. Saat-saat seperti itu, biasanya kalimat yang keluar akan jadi penyesalan. Agar tidak menyesal, ada baiknya mengetahui kalimat apa saja yang sebaiknya tidak dikatakan pada anak.

  1. “Kamu kenapa sih?”

Seringnya, ini jadi kalimat yang keluar dari mulut orangtua saat mendapati anaknya melakukan sebuah hal dianggap salah di mata orangtua. Padahal, belum tentu itu salah sepenuhnya. Dengan mengeluarkan kalimat ini, anak jadi bertanya-tanya, apakah ia benar-benar salah. Juga, mereka akan merasa jadi pribadi yang buruk sehingga jadi serba salah. Daripada mengeluarkan kalimat itu, lebih baik tanyakan dulu alasan kenapa ia melakukan hal tersebut. Alasan yang diungkapkannya mungkin bisa membuat Mama berubah pikiran.

  1. “Tunggu sampai Papamu pulang ya!”

Mungkin si Kecil terus bertingkah sampai Mama lelah dan bosan memberitahunya. Sampai, keluarlah kalimat, “tunggu sampai ayahmu pulang, ya!”. Ini sebaiknya tidak boleh dilakukan karena dengan begitu Mama memberi tahu mereka bahwa yang bisa mendisiplinkan mereka hanya Papa. Padahal, penting sekali mereka tahu bahwa Mama juga harus didengar dan dipatuhi.

  1. “Mama takkan memaafkanmu”

Apapun yang keluar dari mulut Mama dianggap hal serius bagi si Kecil. Bayangkan betapa sedihnya ia saat Mama mengatakan takkan memaafkannya. Meski pada kenyataannya, Mama tak benar-benar bermaksud demikian. Namun anak akan merekam perkataan itu sampai selamanya. Selain itu, anak juga akan belajar dari orangtua. Saat mereka mendengar bagaimana mudahnya Mama takkan memaafkan kesalahan, maka mereka juga akan melakukan hal yang sama. Jika Mama ingin si Kecil belajar tentang memaafkan, maka Mama juga harus belajar memaafkan segala yang dilakukannya. Lagipula, mereka masih kecil, Ma.

  1. “Udah gapapa!”

Mungkin si Kecil kesal dan menangis saat berebut mainan. Atau, kecewa dan menangis saat tidak didengarkan keinginannya. Bagi orang dewasa itu mungkin hal sepele, tapi bagi anak-anak ini adalah waktunya mengenal perasaan. Menghargai perasaan si Kecil adalah hal penting. Sering mengeluarkan kalimat seperti, “udah gapapa!” saat mereka sedang mengeluh bisa melukai perasaannya. Anak yang terus diabaikan perasaannya akan belajar untuk mengabaikan perasaannya sendiri. Jangan sampai anak jadi memiliki penyakit mental karena hal ini.

  1. “Mama tinggal kamu di sini, ya!”

Kalimat ini sama sekali tidak efektif. Anak takkan jadi lebih baik dan menyadari tingkahnya yang tidak tepat jika Mama mengatakan akan meninggalkannya. Daripada melakukan hal tersebut, lebih baik memberi pengertian mengapa harus mendengarkan Mama dan pergi ke tempat selanjutnya. Kalaupun ia ingin lebih lama berada di sana, beri waktu untuknya agar lebih mudah melanjutkan perjalanan.

  1. “Kamu dalam masalah besar”

Bagi sebagian anak, mereka tak mengerti seperti apa itu berada dalam masalah besar. Jadi kalaupun Mama mengancam dengan kalimat tersebut, mereka takkan mengerti maksudnya.  Belum lagi jika Mama benar-benar menghukumnya tanpa menjelaskan apa salah si Kecil. Mereka hanya akan kebingungan dan tak mengerti mengapa dihukum. Lebih baik Mama menjelaskan kenapa hal itu salah dan memberi pengertian mengenai hal yang benar dan salah agar mereka mengerti.

  1. “Berhenti nangis”

Sama seperti kalimat “udah gapapa”, kalimat “berhenti nangis” juga memiliki efek yang mirip. Anak yang menangis berarti sedang mengekspresikan perasaannya. Mereka belum paham apa itu sedih, kesal, atau kecewa. Hasilnya, mereka akan sering menangis saat mendapati aneka perasaan tersebut. Menyuruhnya berhenti menangis berarti membiarkan perasaannya diabaikan begitu saja. Ada baiknya Mama membantunya mengurai perasaannya. Beritahu apakah tangisannya karena kesal, sedih, atau kecewa. Ia akan belajar perlahan dan mengerti seperti apa suasana hatinya.

  1. Komentar tentang fisiknya

Tanpa disadari, mereka yang memiliki masalah kepercayaan diri biasanya hasil dari orangtuanya. Secara tak sadar, mungkin sering berkomentar mengenai bagaimana bentuk rambutnya, warna kulitnya, dan cara berpakaiannya. Berkomentar tentang tubuh anak akan membuat mereka berpikir benar-benar berbeda. Alhasil, anak jadi tidak percaya diri dan mudah terpengaruh dengan perkataan orang lain.

Ada baiknya Mama menerapkan konsep bahwa setiap anak diciptakan dengan keadaan sempurna dan tak ada orang yang jelek. Semua unik dengan caranya masing-masing. Bicara yang baik atau lebih baik diam. Setidaknya itulah yang bisa jadi pertimbangan saat ingin mengungkapkan kalimat-kalimat di atas. Bagaimanapun, anak akan selalu mendengarkan dengan serius semua perkataan yang keluar dari mulut Mama.