Tips Mengatur Keuangan Rumah Tangga Moms dan Dads

mengatur-keuangan-rumah-tangga

Setelah menikah, apa yang berubah dari kehidupan Moms dan Dads? Bangun tidur bertemu Dads? Lebarannya dobel sama ke rumah mertua? Hmm.. yang paling kerasa pasti keuangan! Waktu lajang bisa belanja sesuka hati, tapi setelah menikah jadi kepikiran belum bayar listrik.

Karenanya belanja-belanja harus dikurangi. Ada banyak biaya yang harus dikeluarkan apalagi saat memiliki Si Kecil. Kalau keuangan rumah tangga tidak diatur, Moms dan Dads bisa pusing sendiri. Setelah pusing bakal muncul konflik lainnya yang dapat mengganggu kehidupan berumah tangga.

Lalu gimana cara mengaturnya?

Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga

Mengatur keuangan dengan prinsip 50-30-10-10. Nah loh, angka apa ini? Angka-angka tersebut merupakan persentase pembagian pengeluaran dari pendapatan yang dimiliki Moms dan Dads. Prinsip metode ini didasari dengan skala kebutuhan. Namun tetap mempertimbangkan rencana investasi dan resiko pengeluaran tidak terduga.

Di masa pandemi per awal bulan Agustus ini, beberapa lembaga riset ekonomi nasional memperkirakan Indonesia mengalami resesi atau pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut-turut. Bisa dilihat dari realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terkontraksi 5,32% secara tahunan pada kuartal II tahun 2020. Artinya, ekonomi Indonesia telah jatuh sampai minus 5,32% pada kuartal kedua. Apalagi aktivitas ekonomi belum pulih betul.

Harus banget punya dana tak terduga nih, Moms.

Apa saja 50-30-10-10 itu?

1. 50%: Biaya Hidup

Dalam 50% dari pemasukan ini sifatnya fleksibel. Misalkan gaji Dads sebesar Rp 4.000.000. Maka anggaran maksimum untuk biaya hidup adalah sebesar Rp 2.00.000. Artinya Rp 4.000.000 dikali 50% dari total pendapatan.

Sebagai contoh, Moms bisa mengalokasikan Rp 900.000 untuk pangan, Rp 400.000 untuk belanja bulanan, Rp 300.000 untuk tranportasi, Rp 200.000 untuk pulsa dan atau kuota, serta biaya listrik Rp 200.000.

 

2. 30%: Tagihan

Nah berbeda dengan pos biaya hidup, anggaran untuk tagihan sifatnya tidak boleh diganggu gugat. Jika tidak, tagihan akan membengkak dan makin besar nominalnya di bulan-bulan yang akan datang. Misalkan dari gaji Rp 4.000.000 yang Dads dapatkan tadi, maka dana untuk tagihan dialokasikan sebesar Rp 1.200.000.

Contoh dari pos anggaran tagihan adalah premi asuransi sebesar Rp 153.000 dengan asumsi BPJS kelas 2 untuk 3 orang. Dan tagihan cicilan rumah sebesar Rp 1.000.000 dengan asumsi KPR 15 tahun.

3. Tabungan atau investasi

Pepatah memang benar loh Moms bahwa sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Sepuluh persen dari Rp 4.000.000 gaji hasil andai-andai tadi bisa Rp 400.000 untuk ditabungkan. Dana ini nantinya bisa dipakai untuk pendidikan Si Kecil, liburan, atau modal untuk membuka usaha.

4. 10%: Dana sosial

Dengan memberi, kita juga turut membahagiakan orang lain. Dan bahagia orang lain pasti jadi bahagia kita. Moms bisa mengalokasikan sisa 10% untuk pos sosial seperti sedekah, perpuluhan gereja, atau membeli kado untuk kerabat.

Nah, sudah paham soal metode ini kan Moms? Untuk bisa merealisasikannya mem

tips-mengatur-keuangan-rumah-tangga

ang dibutuhkan komitmen yang kuat serta disiplin untuk menjalankannya. Lewat-lewat, uang gaji Dads bisa tiba-tiba hilang sedangkan masih ada cicilan yang harus dibayarkan.

Oh ya, gaji Rp 4.000.000 disesuaikan dengan gaji atau penghasilan Moms dan Dad ya. Tadi hanya berandai-andai, kok.

Semoga berhasil!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *